close

Dapat Hadiah Dari Menolong Teman Kost ku

Saya berasal dari Tasikmalaya dan sudah 2 tahun menempuh kuliah di Jakarta. Di sini aku tinggal di sebuah rumah kost yang dihuni banyak mahasiswa perantauan sepertiku. Kisah ini bermula ketika aku sedang berbelanja ke sebuah mall di Jakarta. Aku tidak sendirian, tapi bersama 2 gadis teman kostku, mereka adalah Liana dan Cinta.



Keduanya cantik dan sama-sama warga keturunan sepertiku. Liana adalah seniorku semester akhir, sama-sama jurusan manajemen denganku, sifatnya pendiam, banyak yang mengatakan dia judes karena jarang tersenyum, karena sifat tertutupnya inilah temannya cuma sedikit, tapi kalau sudah akrab ternyata orangnya baik dan menyenangkan.

Dia sering membantuku dalam tugas-tugas kuliah. Hubungan kami seperti kakak adik, orangnya putih cantik, tinggi, rambut panjang, wajah oval dan bodinya ideal, kalau dilihat-lihat mirip dengan Vivian Hsu, sedangkan Cinta seangkatan denganku tapi dari fakultas psikologi, pacarnya adalah salah satu temanku yang sedang belajar di luar negeri, sifatnya periang dan humoris, kadang-kadang suka bercanda kelewatan, tingginya skitar 160 cm, bodinya langsing, berambut lurus sebahu, wajahnya putih licin dengan hidung mancung, dia dan aku termasuk beberapa dari segelintir orang yang dekat dengan Liana. Malam itu langit sudah gelap kira-kira jam 19:00, kami sudah selesai berbelanja dan sedang menuju tempat parkir bertingkat.

Tempat itu sudah sepi dan gelap karena aku kebetulan parkir di tingkat agak atas jadi jarang ada kendaraan. Suasana di sana cukup menyeramkan hanya diterangi lampu remang-remang. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh 2 orang preman berpenampilan sangar yang menghadang jalan kami. “Hei babi, tunggu dulu kalo mau lewat serahin dulu duit yang kalian punya, ayo!” kata yang kurus gondrong itu. “Wah gile bawa cewek juga nih dia, cakep-cakep lagi, eh cewek mau main sama kita nggak!” timpal temannya yang berambut cepak. Aku segera bergerak menepis tangan si cepak ketika hendak mengelus pipi Liana yang tampak ketakutan. “Hei, hei.. kalau mau duit gua ada tapi jangan macam-macan sama temanku!” bentakku padanya.

Rupanya mereka tidak terima dan si gondrong mengeluarkan pisau lipatnya dan menyerang ke arahku, aku menghindar dan menangkap pergelangan tangannya, kupuntir dengan jurus aikido yang kupelajari sejak SMA, “Ci Liana, Cinta, cepat masuk ke mobil dan lari, jangan tunggu gua!” seruku pada mereka seraya memberi kunci mobil pada Liana, mereka segera masuk ke mobil dan kudengar mesin sudah dinyalakan tapi bukannya lari malah menungguku. “Heh bangsat, mau jadi jagoan loe, ayo kita hajar dia dulu baru kita kerjain cewek-ceweknya,” kata yang gondrong pada temannya. Si cepak menerjang ke arahku tapi kutendang perutnya sampai terhuyung-huyung ke belakang. “Ayo masih berani maju?” tantangku dengan memasang kuda-kuda.

AGENT BETTING ONLINE TERBAIK DAN TERPERCAYA WWW.OKE77.COM

Yang cepak itu masih belum kapok, dia mengeluarkan pisaunya dan mencoba menusukku, kami sempat terlibat pertarungan seperti dalam film-film action. Tanganku sempat tersabet pisau dan membuat luka gores sepanjang kira-kira 10 cm, namun aku berhasil merebut pisau si gondrong dan kupatahkan pergelangan tangannya, sementara yang cepak terkena tinjuku pada mulutnya sehingga terlihat darah pada bibirnya. Sebenarnya aku mulai kewalahan tapi aku mencoba tetap tenang dengan menggertak mereka dengan pisau yang kurebut sambil berdoa dalam hati, kami terdiam sesaat lalu mereka perlahan-lahan mundur, membalikkan badan dan kabur entah kemana, akhirnya berguna juga ilmu bela diri yang kupelajari selama ini.

Aku segera masuk mobil, kusuruh Liana segera tancap gas, dengan wajah masih tampak tegang dia segera menjalankan mobil dan keluar dari situ. Cinta berkata padaku, “Ihh tangan kamu berdarah tuh, kamu nggak apa-apa?”. Cinta membantu mengobati lukaku dengan peralatan P3K di mobilku. “Teo, kamu nggak apa-apa, kita ke rumah sakit ya,” sambung Liana. “Ah nggak usah kok cuma luka gores aja, nggak sampai kena tulang lagi, tinggal diobatin dan diperban sendiri aja, kalian tenang sajalah, harusnya gua yang terima kasih pada kalian, kalian sudah gua suruh kabur dulu tapi malahan nungguin, kalau gua kalah tadi gimana coba!” “Teo, kamu masih anggap Cici ini temanmu nggak sih, kamu pikir kita tega ninggalin kamu sendirian kayak gitu!” kata Liana dengan ketus dan menatap tajam ke arahku.

“Udah Ci, lagi nyetir jangan marah-marah, Teo kan tadi kuatir keselamatan kita juga, uuhh.. kamu sih asal omong!” Cinta mencoba menenangkan sambil menyikut dadaku, aku diam saja daripada ribut sama cewek, bukannya takut tapi bikin pusing apalagi mendengar omelan Cinta kalau lagi bawel. Sesampainya di kost, aku menyuruh mereka istirahat saja supaya tenang, aku sendiri segera masuk kamar. Kira-kira jam 9 malam, aku sedang membaca tabloid Bola, pintuku diketuk, ternyata yang datang Liana dan Cinta yang sudah memakai pakaian tidur. “Loh, ngapain kalian berdua ke sini malam-malam begini?” tanyaku. “Kita cuma mau berterima kasih barusan itu, kamu tadi hebat banget deh Teo, mirip Jet Lee aja aksinya,” puji Cinta dengan tersenyum. “Boleh kami masuk, ngobrol-ngobrol sebentar?” tanya Liana.

Akhirnya kupersilakan mereka masuk juga mumpung belum ada yang lihat. “Gimana lukamu Teo, sori banget ya demi kita kamu jadi gini, kalo nggak ada kamu nggak tau deh gimana nasib kami,” kata Cinta sambil memegangi lenganku yang sudah diperban. “Ah luka kecil, nggak lama juga sembuh kok, kalian tenang deh.” “Teo, kamu hebat deh tadi, makannya kita ke sini rencananya mau membalas budi nih, kami ada hadiah kecil buat kamu,” sahut Liana. “Oh, nggak usah Ci, kita kan temen kok pake hadiah-hadiahan segala.” “Eee, harus diterima lho kalo nggak gua nggak mau omong sama kamu lagi nih!” sambung Cinta setengah memaksa. “Ya, iya deh, aku terima aja biar kalian puas, makasih loh.” “Tapi loe tutup mata yah, soalnya ini surprise loh,” katanya lagi. “Wah, apa sih pake rahasia segala, ya udah deh, gua merem nih,” kataku.

Aku bersandar di ranjang sambil memejamkan mata, kudengar suara tirai ditutup dan Liana berkata, “Awas jangan ngintip ya, ntar batal loh hadiahnya!” disambung dengan suara Cinta ketawa cekikikan. Akhirnya aku merasakan salah seorang duduk di sampingku dan meraih tanganku. “Sudah siap?” ternyata suara Liana. “Sudah, boleh buka mata belum Ci?” “Tunggu bentar lagi.” jawabnya. Tanganku disentuh & diusapkan pada suatu benda kenyal olehnya. Betapa kagetnya aku ketika meraba benda itu ternyata adalah payudara wanita. Segera kubuka mata dan benar saja, Liana duduk di samping kiriku tanpa sehelai benangpun dan menumpangkan tanganku di payudaranya, sementara Cinta yang juga sudah polos mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu meja sehingga suasana menjadi remang-remang.

“Nah kalo gini kan jadi romantis suasananya.” katanya. Benar-benar kaget bercampur terangsang aku saat itu, aku baru pertama kalinya melihat mereka polos. Tubuh Liana ternyata benar-benar aduhai, perut rata, paha jenjang yang mulus, bulu kemaluan yang rapi dan lebat, dan payudaranya lumayan besar dan kencang, benar-benar mirip dengan Vivian Hsu yang sering kulihat gambar-gambar bugilnya. Tubuh Cinta tidak kalah menarik walaupun payudaranya tidak sebesar Liana, mungkin hanya 34 dengan puting merah muda dengan bulu kemaluan yang lebat pula. “Loh, kok.. kok begini sih, terima kasihnya kelewatan deh kayaknya,” kataku sedikit gagap dan jantungku berdebar kencang karena aku belum pernah main dengan perempuan lain selain pacarku sendiri.

“Tidak Teo, kamu memang pantas menerimanya, jadi hutang budi ini impas,” jawab Liana lalu dia membuka ikat rambutnya sehingga rambut panjangnya tergerai bebas sedada. “Wah, Ci liat, mukanya merah tuh, dia malu sama kita kali,” kata Cinta sambil tertawa. “Nggak usah malu Teo, kita kan temen dekat bukan orang lain,” kata Liana seraya membelai pipiku dan mencium bibirku. Imanku langsung runtuh karena perlakuan mereka, begitu bibirnya menempel di bibirku segera kusambut dengan tarian lidahku di mulutnya, lidah kami saling beradu dengan penuh nafsu, tanganku sudah mulai memijat-mijat buah dadanya dan mulai turun meraba-raba paha mulusnya naik lagi ke kemaluannya dan kuberikan sentuhan halus pada klistorisnya. Liana yang biasanya pendiam dan lemah lembut itu, malam itu begitu liar & penuh nafsu jauh dari yang sehari-hari.

Cinta tidak tinggal diam, dia memelorotkan celana trainingku dan CD-ku sehingga barangku yang sudah tegang menyembul keluar. “Wah besar juga nih, pantes si Vivi betah sama lu Teo,” godanya. Dijilatinya senjataku dengan penuh nafsu, lalu dimasukkan ke mulutnya dan diemut-emut seperti seperti permen lolipop. Sementara ciumanku pada Liana sudah mulai turun ke dagunya, lalu ke leher. Kusibakkan rambut panjangnya ke samping kiri lalu kujilat-jilat leher kanannya, kugigit pelan sambil menyapunya dengan lidahku. Nafas Liana sudah mulai kacau matanya terpejam sambil mendesah dan meremas-remas rambutku, aku sendiri merasakan sensasi hebat pada batanganku yang sedang dikulum Cinta, baru pertama kalinya kurasakan kenikmatan bercinta dengan dua wanita.

Tanganku mulai naik dari kemaluannya menuju dadanya dan lidahku turun menuju sasaran yang sama, akhirnya kutangkap dada kanannya dengan tanganku dan dada kirinya dengan mulutku, disaat yang sama juga tangan kiriku mengelus-elus pantatnya yang indah itu. Puting yang ranum itu kusedot dan kutarik-tarik dengan mulutku dan dada kanannya kuremas-remas sambil memencet putingnya. Setelah beberapa saat kurasakan barangku mau meledak karena kuluman Cinta. “Cin, Cin udah stop dulu.. gua udah nggak tahan nih!” kataku terbata-bata. Akhirnya dia menghentikan kegiatannya dan berkata, “Lu gitu ah, masa mainnya sama Ci Liana terus, kamu nggak suka Cinta ya, ntar gua bilangin loh ke Ko Hendry (pacar Liana) biar digebuk hehehe..”

“Sori dong Cin, abis kan tadi Ci Liana yang mulai dulu, jadi dia yang duluan dapet.” “Ya udah, biar adil kita undi saja siapa yang lebih dulu melayani Teo, gimana Cin?” Liana memberi usul. Mereka berdua suit dan yang menang adalah Liana. “Yah, Cinta kalah, ya udah Cici duluan deh, jahat ah!” kata Cinta mencibir pada Liana. “Tenang Cin kamu juga ntar kebagian kok, Teo kan kuat, ya nggak,” kata Liana sambil melirik padaku. Kini Liana berbaring terlentang di ranjang dan Cinta duduk di tepi ranjang menunggu. Kuciumi sekujur tubuhnya mulai dari bibir dan sesampainya di kemaluan, kuangkat kedua kakinya ke bahuku sampai tubuhnya setengah terangkat lalu kudekatkan wajahku ke pangkal pahanya. Bulu-bulu lebat itu kusibakkan dengan jariku dan kujilati belahan di tengahnya.

Lidahku bermain-main dengan ganas di daerah itu membuat tubuh Liana mengelinjang-gelinjang disertai suara-suara rintihannya. Tidak kuhiraukan lagi bahwa gadis ini sebenarnya adalah seniorku dan kuanggap kakak angkatku yang harusnya kuhormati, yang terpikir saat itu hanyalah nafsu dan nafsu yang makin membara. Mendadak kurasakan sebuah tangan dengan jari-jarinya yang lembut menggenggam batang kemaluanku yang nganggur. Pemilik tangan lembut itu adalah Cinta yang tidak tahan hanya menjadi penonton. Dikocoknya batang kejantananku lalu dimasukkan ke mulutnya dan diemut-emut, sementara lidahku terus bekerja di liang kewanitaan Liana, tanganku membuka bibir kemaluan yang rapat itu sampai kulihat tonjolan kecil di tengahnya, dan kumasukkan lidahku lebih dalam lagi agar bisa menjilat benda itu.

Rintihan Liana makin menjadi-jadi sambil meremas-remas sprei dan Cinta berpindah menciumi payudara Liana. Sesaat kemudian kedua paha Liana mulai menjepit kepalaku, badannya tertekuk ke atas. “Oh, Teo.. akhhh.. ah!” Erangan itu diiringi menyemburnya cairan hangat berwarna bening membasahi mulutku, setelah itu kuturunkan badannya dan Cinta membantuku menjilati cairan yang masih tersisa di kemaluan Liana sampai bersih, tubuh Liana mulai melemas kembali. “Teo, kamu waktu main sama Vivi juga seperti ini ya, permainanmu bagus sekali,” puji Liana padaku. “Ah biasa aja kok Ci,” sahutku sambil memiringkan tubuhnya dan kuarahkan batangku ke lubang yang sudah basah itu.

Sedikit demi sedikit batang itu mulai tertancap di lubang itu diikuti desisan Liana sampai akhirnya dengan susah payah akhirnya mentok juga batangku di kemaluannya yang sempit itu. Setelah itu aku mulai memacu badanku maju mundur sambil meremas-remas payudaraya dan Cinta menjulurkan lidahnya untuk beradu dengan lidahku. Sungguh nikmat sekali rasanya menikmati pijatan-pijatan dinding liang kewanitaan Liana sambil memijat payudaranya dan bermain lidah dengan Cinta, sekali-sekali Cinta juga menjilati leher dan telingaku. Benar-benar aku merasakan diriku bagaikan seorang kaisar yang sedang dilayani selir-selirku saat itu. Beberapa saat kemudian aku merasa mau keluar dan berkata, “Ci, mau keluar sebentar lagi nih.” “Siram di mulut.. ohh.. ahhh.. di mulut Cici!” katanya lirih. Akhirnya kami klimaks bersama dan kusuruh dia membuka mulut untuk menyemprot spermaku.

Cairan putih kental membanjiri mulutnya sampai menetes di sekitar bibirnya, Cinta pun ikut menjilati spermaku yang masih berlepotan di batangku. Liana sekarang tergolek lemas dengan sisa-sisa sperma masih membekas di bibir, dagu, dan lehernya, sesudah mengatur nafas dia tersenyum padaku dan berkata, “Bisa-bisa besok pagi Cici nggak bisa kuliah gara-gara kecapean nih,” jarang-jarang dia tersenyum begitu, padahal wajahnya semakin manis kalau lagi senyum. “Sama Ci, saya juga gitu mungkin, sekarang Cici istirahat aja dulu deh, Cinta udah nggak sabar nih,” jawabku sambil merengkuh tubuh Cinta dalam pelukanku. “Cin, biarin Cici istirahat di ranjang dulu ya, kita mainnya di tempat lain dulu, oke..” “Ya terserah kamu deh, asal jangan di luar kamar, kan malu,” katanya sambil memencet hidungku dengan nakal. “Ya, iyalah masa di luar sih, dasar cewek sableng,” kataku sambil membantunya berdiri.

Kami berdiri berhadapan saling peluk tanpa mengenakan selembar benangpun, kutatap wajah dan matanya dalam-dalam, semakin dilihat semakin cantik. Kurapatkan dia ke tembok, kukecup keningnya merambat ke telinganya dimana aku berbisik, “Cin, kamu pernah melakukan ini pada siapa saja?” “Baru loe, Andry, dan bekas pacar gua di SMA, loe sendiri gimana Teo, gua ini cewek keberapa yang luperlakukan begini?” Aku terdiam sesaat lalu kujawab, “Selain Vivi dan Ci Liana mungkin kamu yang ketiga dan terakhir bagiku Cin.” “Kenapa loe bilang aku yang terakhir Teo?” “Ya, karena aku sudah berdosa pada Vivi, aku tidak mau menambahnya lagi.” “Hihihi, ternyata masih ada juga pria lugu seperti kamu Teo.”

Lalu dia berkata di dekat telingaku, “Jadi loe belum bisa membedakan antara seks dan cinta,” habis menyelesaikan kata-kata dia langsung mengulum telingaku dan kubalas dengan meraba punggung mulus dan pantatnya. Kami saling raba bagian-bagian sensitif selama beberapa saat dan kini kuangkat kaki kanannya masih dalam posisi berdiri dengan bersandar di tembok. Pelan-pelan kumasukkan batang kemaluanku ke liang yang sudah becek itu, benar-benar sempit milik Cinta ini, lebih sempit dari Liana sehingga dia meringis kesakitan sambil mempererat cengkramannya di pundakku saat kumasukkan batangku. “Aduhh.. ahhh.. pelan-pelan Teo, sakit.. ahh..!” Sedikit demi sedikit batangku sudah masuk setengahnya.

Kuhentikan gerakanku sejenak sambil berkata, “Cin, kamu siap?” “Siap apaan sih.. aawww…sakittt!” jeritnya. Sebab saat dia bilang ‘sih’ kuhujamkan sekuat tenaga sisa batangku yang belum masuk sampai mentok dan kurasakan kepala batang kejantananku menghantam dasar kemaluannya dengan kuat sehingga tubuhnya tersentak dan matanya membelakak kaget, telapak tanganku sudah kusiapkan di belakang kepalanya agar ketika terkejut kepalanya tidak membentur tembok. “Jahat loe, bikin kaget gua aja,” tanpa banyak bicara lagi kugerakkan pantatku maju mundur membuatnya mengerang-erang setiap kusentakkan tubuhku ke depan. Dadaku saling bergesekan dengan dadanya. Sambil terus menggenjot kuciumi terus bibirnya sehingga erangannya tertahan, yang terdengar hanya suara, “Emmhhh.. emmhh.. emhmm..”

Beberapa saat kemudian tubuhnya kurasakan seperti menggigil dan dia mempererat pelukannya, demikian juga aku makin erat memeluknya sampai kurasakan hangat pada batang kejantananku disusul keluarnya cairan bening dari liang senggama Cinta, cairan itu mengalir deras dari sumbernya terus turun ke pahanya dan sampai ke ujung kakinya. Perlahan-lahan gerakanku melemah dan akhirnya berhenti, kuturunkan kakinya dan kulepaskan batangku yang masih menancap di kemaluannya. Tubuh Cinta yang sudah basah kuyup oleh keringat melemas kembali dan merosot sampai terduduk di lantai, keringat di punggungnya membasahi tembok di belakangnya. Kuambil tisu lalu kubersihkan cairan kenikmatan yang mengalir membasahi tungkainya.

Kami berdua terdiam sesaat memulihkan tenaga kami yang terkuras. Setelah kurasa segar kembali kuperhatikan dia yang masih terduduk lemas di lantai dengan kaki kiri ditekuk, mataku terpaku mengagumi keindahan tubuhnya membuat gairahku bangkit kembali. “Ngapain sih loe, serem amat melototin gua kaya gitu,” katanya sambil menyilangkan kedua tangan menutupi dadanya. Tanpa menjawabnya kutarik lengannya lalu kubuat posisinya berdiri membelakangiku dengan kedua tangannya bertumpu di pinggir meja belajarku. “Aduh.. tunggu dulu Teo, gua masih capek, loe jahat ih!” Dengan segera kubasahi batang kejantananku dengan ludah lalu kumasukkan ke lubang pantatnya dengan paksa dan kuhentakkan biasa saja tapi dia malah menjerit histeris,

“Awww.. sakit, toloongg!” Jeritannya ini sempat membuatku kaget juga karena kencang sekali, aku takut sampai mengundang perhatian tetangga sebelahku, untungnya lokasi kamarku ini agak di ujung namun jeritannya tadi cukup luar biasa. Aku melepaskan sebentar tusukanku dan mengintip dari jendela apakah ada yang datang ke sini, lega aku melihat koridor masih sepi tanpa suara dan kamar sebelahku juga sudah gelap, kurasa dia sudah terlelap. Kudekati Cinta masih tetap dalam posisinya. “Aduh Cin, itu suara tolong dikecilin dong volumenya, gawat nih kalo ada yang tau, pake tolong segala lagi, bisa-bisa dikira ada pembunuhan.” Dasar cewek bandel, dia malah sambil tertawa berkata, “Lucu tampang kamu lagi panik Teo, masa kamu lupa si Ferry tetangga sebelah loe kan lagi pulang makanya gua kagetin loe, ini balasan waktu tadi ngagetin gua (ketika posisi berdiri), jadi kita seri hihihi!”

“Ooo jadi loe sengaja ya, awas loe ayo sini tunggu ya balasan gua ntar!” kataku menghampirinya. Dia malah berkelit sambil berlari kecil. “Wek, sini tangkep kalo bisa,” ejeknya dengan menjulurkan lidah. “Cewek bandel, awas kalo kena ya!” “Lho kalian lagi ngapain, kok kayak anak kecil aja sih, dari tadi ribut terus,” kata Liana yang sudah bangun. “Ini Ci, gua lagi kasih pelajaran buat si bandel nih.” Akhirnya kutangkap setelah dia terdesak di lemari pakaianku di sudut ruangan, kupeluk dia dari belakang, “Nah ketangkep loe sekarang, mau ke mana lagi.” “Hihihi Teo ampun ah, jangan kasar-kasar!” dia masih tertawa-tawa ketika itu, lalu aku membuat posisinya seperti tadi lagi, kini kedua tangannya yang bertumpu pada lemari. “Sekarang tau rasa nih balesan gua!” kataku dengan senyum penuh kemenangan.

Kutuntun batang kejantananku memasuki lubang pantatnya yang sempit, sedikit demi sedikit akhirnya amblas seluruhnya. Waktu kumasukkan suara tawanya perlahan-lahan berubah menjadi suara rintihan, senyumnya sirna berganti menjadi ekspresi kesakitan, “Hi.. hi.. hi.. Teo udah ah, lepasin ah.. ahhhh.. jangan.. ahhh.. sakit..!” Mendengar rintihan tak karuan itu nafsuku semakin bangkit, pinggulku segera bergerak maju mundur dengan ganas. Dasar sifatnya bawel, waktu bertempurpun dia masih sempat berceloteh sambil merintih, “Akhh.. kamu.. sadis.. ah.. ntar gua mau.. ohhh.. lapor.. aakhh.. sama.. sama Vivi.. ahhh!” Pinggulnya ikut berpacu menyelaraskan dengan gerakanku, yang paling enak adalah saat sentakan kita saling berlawanan arah sehingga menambah tenaga tusukanku agar menancap lebih dalam, bila sudah begitu selalu histeris tapi tidak sehisteris waktu mengagetkanku tadi.

JUDI KARTU TERBAIK HANYA DI WWW.OMDOMINO.COM

Payudaranya juga ikut berayun-ayun kesana kemari, kedua putingnya kutangkap dengan jariku, kupuntir, kutarik, dan kupencet tanpa menyentuh dadanya, aku sengaja berbuat begitu agar dia penasaran dan memohon padaku. Benar saja perkiraanku setelah beberapa lama kumainkan putingnya tanpa menyentuh dadanya dia mulai memohon. “Teo.. ahh.. kamu kok.. ooohh.. cuma mainin.. aahhh putingnya.. remas dadaku Teo.. please!” “Hehehe.. gua kan udah janji mau ngebales loe tadi, tunggu aja sampai saatnya nanti Cin, hehehe,” jawabku sambil tetap menggenjot lalu tangan kiriku menjambak rambutnya hingga kepalanya menengadah ke atas. “Aaawww.. kamu.. kamu.. ahhh.. jahat.. kasar.. awas ya nanti!” Puas hatiku menyiksa si bandel ini hingga tak berkutik memohon-mohon padaku.

Menurutku bercinta dengannya lebih enak daripada Liana yang agak pasif, Cinta cukup pintar mengimbangi gerakan-gerakanku, staminanya pun lebih baik sedangkan Liana belum apa-apa sudah takluk, maklum Cinta ini orangnya rajin fitness. “Uaah.. mau keluar Cin!” jeritku ketika mau mencapai puncak. “Gua juga.. aaahh.. ayo perdalam lagi.. ouchhh!” “Uahhh…” begitu spermaku muncrat aku langsung berteriak dan meremas kedua buah dada Cinta dengan keras disusul pula oleh jeritannya. “Aaakkhhh sakiitt.. eeenakk..!” Tanpa melepas batang kejantananku ,kepalaku menyelinap ke balik ketiak kirinya, sasaranku adalah puting susu yang ranum itu. Mulutku menangkap benda itu lalu kusedot dengan gemas sementara tanganku masih meremas buah dadanya. Kubalikkan tubuhnya hingga kami saling berdiri berhadapan.

“Cin, kamu nggak menyesal melakukannya padaku?” tanyaku, dia hanya menggeleng dengan nafas yang masih memburu, tubuhnya licin mengkilap karena berkeringat. “Teo gua capek berdiri terus, bantu gua ke ranjang dong,” pintanya. Maka kugendong dia ke ranjang dengan kedua tanganku sambil bercumbu mesra, kubaringkan dia di sebelah Liana yang sudah bangun, lalu aku duduk di tepi ranjang karena ranjangku tidak cukup berbaring 3 orang. “Wuiiih main sama Cinta ribut banget, sori ya ngebangunin Cici nih,” kataku pada Liana. “Eee.. loe yang sadis kok masih nyalahin gua, awas ya!” kata Cinta sambil menangkap kemaluanku dan menggenggamnya erat. “Idiih.. idihh.. gitu ya, lepasin Cin malu tuh diliatin Ci Liana!”

“Minta ampun dulu, kalo nggak kagak bakalan gua lepas nih!” “Iya, sori.. sori deh yang mulia putri, sekarang lepas dong!” gila bukannya dilepas malahan dijilatinya batang kejantananku yang masih ada sisa-sisa sperma dan cairannya itu. “Kalian kok berantem melulu sih, lucu ah!” kata Liana lalu dia mendekati kami dan ikut menjilati batang kejantananku. Aku jadi merem melek keenakan menikmati permainan mulut mereka sambil mengelus-elus rambut indah Liana. Aku lalu menyandarkan badanku di ujung ranjang agar lebih nyaman, kedua gadis cantik ini kini berada di depanku sedang mempermainkan kemaluanku. Jilatan demi jilatan, emutan demi emutan membuatku menyemburkan kembali maniku namun kali ini sudah tidak banyak lagi yang keluar akibat terkuras pada ronde-ronde sebelumnya.

Dengan rakusnya mereka berebutan melahap cairan putih itu sampai habis bersih, pada bibir-bibir mungil itu masih terlihat percikan spermaku. Mereka lalu menyuruhku telentang di ranjang, aku tidak tahu mereka mau apa lagi tapi kuturuti saja. Liana lalu naik ke atas kemaluanku dan memasukkan batang itu hingga terbenam dalam kemaluannya, kemudian dia mulai bergoyang-goyang naik turun seperti naik kuda. Cinta naik ke atas wajahku berhadapan dengan Liana dan menyuruhku agar menjilati kemaluannya. Sambil kuelus-elus pantat yang mulus itu, lidahku menjelajahi liang kemaluannya, gerakan lidahku bervariasi dari berputar-putar membuat lingkaran, mempermainkan klitorisnya, menggigit lembut klistorisnya, menusukkan jari tengahku sampai mendorong-dorongkan lidahku ke liang itu.

Tanganku bargantian memijati kedua payudara Cinta dan mengelus paha serta pantatnya, suatu ketika kuraba payudaranya, tanganku juga bertemu tangan Liana di situ, jadi masing-masing payudara Cinta dipijati 2 tangan. Suara desahan mereka berdua memenuhi kamarku, terkadang suara itu berubah menjadi, “Emhhh.. emhhh.. emhh!” sepertinya itu suara mereka berdua sedang berciuman sehingga desahannya terhambat, aku tidak tahu persis karena waktu itu pandanganku tertutup tubuh Cinta. Goyangan pinggul Cinta bertambah dahsyat ditambah lagi jepitan pahanya terkadang mengencang membuatku agak kewalahan mengatasinya, sementara Liana yang tidak kalah gilanya makin mempercepat gerakannya sehingga terasa sedikit sakit pada buah pelirku akibat tindihannya.

Aku pun tak mau kalah, kubalas dengan menggerakkan pinggulku, kurasakan batang kejantananku sudah terasa licin dan hangat oleh cairan yang keluar dari liang kewanitaannya, bersamaan dengan itu terdengarlah jeritan histeris Liana yang tidak lama sesudahnya disusul erangan Cinta dan tetesan cairan kenikmatannya ke wajahku. Tubuh keduanya mengejang di atas tubuhku selama beberapa saat, kurasakan goyangan Liana mulai melemah sampai akhirnya berhenti, Cinta turun dari wajahku dan langsung menjatuhkan diri di sampingku.

Kulihat tampang Liana sudah kusut, rambut panjangnya berantakan sampai menutupi sebagian wajahnya dan tubuhnya sudah bermandikan keringat, dia jatuh telungkup di atasku, payudaranya menindih dadaku, empuk dan nikmat sekali rasanya, lebih enak dari ditindih bantal bulu angsa sekalipun. Begitu bahkan Liana, gadis bagaikan gunung es itu sudah tidak perawan lagi, tapi aku tidak peduli soal itu yang penting kenikmatan yang kudapat waktu itu sangat hebat, lagipula liang kemaluan mereka masih sempit karena menurut pengakuan mereka jarang melakukannya karena pacar mereka tinggal terpisah jadi jarang bertemu.

Gara-gara permainan liar malam itu besok paginya aku tidak ikut kuliah jam 7 karena tubuhku pegal-pegal terutama bagian pinggang seperti mau copot rasanya, kumatikan wekerku dan meneruskan tidur sampai jam 10.00 ketika si bandel Cinta menggedor pintuku, “Wei.. wei.. bangun pemalas, semalam ngapain aja loe
Previous
Next Post »
AgenQQ
close